News  

Aktivis Perempuan Kecam Ujaran Kebencian Dan Diskriminasi

MERAUKE, ARAFURA,- Marta Elizabeth Titihalawa, seorang Aktivis Perempuan Papua, menyampaikan pernyataan sikap atas peristiwa kekerasan dan ujaran kebencian yang dialaminya saat aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Provinsi Papua Selatan, Merauke, pada Jumat, 18 Juli 2025.

Menurut Martha, sebagai keturunan peranakan Papua, dalam hal ini peranakan Ambon–Marind, dirinya dilahirkan dari rahim perempuan asli Papua, Suku Marind. Papua Selatan. Dengan Identitas yang melekat dalam dirinya tumbuh dari akar budaya Papua Selatan, dan menjalani hidup sebagai bagian dari masyarakat adat.

Maka dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sosial, Martha yang lahir dari garis percampuran seperti ini dengan tegas menyatakan bagian utuh dari wajah Papua yang beragam.

Dimana aksi tersebut dilakukan oleh oknum kelompok yang tergabung dalam Solidaritas Pemuda dan Masyarakat Peduli Pekerja, bersama perwakilan Orang Asli Papua (OAP) dari berbagai wilayah. Massa menyuarakan tuntutan terhadap hasil seleksi CPNS Formasi 2024 yang dianggap tidak adil dan tidak transparan. Aksi yang semula berlangsung damai berubah tegang ketika. Masa tidak sempat berjumpa bapak Gubernur yang saat itu tidak ada di tempat, dan massa membakar ban sebagai bentuk protes.

Dalam situasi tersebut, Martha menjadi korban kekerasan ketika secara lembut dan sopan menyampaikan keberatan terhadap penggunaan istilah atau diksi “darah kotor” oleh salah satu oknum orator. Ungkapan yang jelas mengandung muatan diskriminatif terhadap kelompok peranakan, membuat Martha menolak akan tetapi justru terjadi balasan berupa cacian bernada rasis dan tamparan dari salah satu peserta aksi.

“Peristiwa ini bukan hanya melukai Saya sebagai pribadi, tetapi juga mencederai nilai-nilai dasar kehidupan bersama di Papua Selatan: keadilan, keberagaman, dan martabat kemanusiaan. Saya dengan tegas menyatakan bahwa kelompok peranakan adalah bagian sah dari masyarakat Papua. Tidak ada satu pun alasan yang membenarkan pengucilan, penghinaan, apalagi kekerasan terhadap kami hanya karena latar belakang darah campuran. Lahir dari seorang ibu asli Marind, saya membawa identitas Papua dalam tubuh dan jiwa Saya, “ungkap Martha Titihalawa dalam Press Realisenya kepada berbagai Media, Selasa 23 July 2025.

Melalui siaran pers ini, Martha menyampaikan seruan berikut:
1. Menuntut permintaan maaf terbuka dari pihak-pihak yang terlibat dalam tindakan kekerasan dan ujaran kebencian.
2. Mendesak aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti kejadian ini secara profesional sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
3. Mengajak seluruh masyarakat Papua Selatan, khususnya generasi muda, untuk menolak segala bentuk diskriminasi berbasis suku, ras, dan latar belakang peranakan.
4. Mendorong media serta komunitas sipil untuk menjaga ruang publik yang sehat, aman, dan menghargai keberagaman identitas.

kembali disampaikan bahwa Papua Selatan merupakan tanah kita bersama – rumah besar yang dihuni oleh beragam identitas yang saling terhubung oleh sejarah dan nilai-nilai kemanusiaan. “Kami yang berasal dari keluarga peranakan memiliki hak yang sama untuk dihormati, didengar, dan dilindungi, ” ujar Martha.

Dirinya berharap peristiwa ini menjadi titik balik untuk memperkuat komitmen bersama dalam merawat kebinekaan dan memperjuangkan keadilan sosial bagi semua lapisan masyarakat di Tanah Papua Selatan. ***(Ist)