Siapa Bilang Mama-Mama Papua Tidak Bisa Buat Tempe?

  • Bagikan
Mama-mama saat dilatih membuat tempe (foto:ist)

MERAUKE,ARAFURA,-Tempe dikenal luas oleh masyarakat seluruh Indonesia bahkan sampai ke luar negeri karena tempe adalah makanan lezat yang dapat dikonsumsi oleh semua kalangan. Tempe mengandung banyak protein nabati dan merupakan makanan sehat yang murah meriah. Terdorong oleh niat baik dan juga sebagai bentuk pengabdian Universitas Musamus kepada masyarakat, terkhusus kepada masyarakat di desa binaan maka para dosen memberikan pelatihan pembuatan tempe kepada warga Papua. Upaya ini menghapus kesan banyak orang jika hanya masyarakat dari bagian barat Indonesia saja yang ahli membuat tempe. Dalam pengabdian ini, mama-mama Papua diajarkan cara membuat tempe dan ini menunjukkan bahwa mereka juga jago untuk membuatnyai.

Mereka diharapkan bisa membuat tempe yang sehat dan higienis yang dapat dikonsumsi sendiri dan juga dapat dijual serta diolah kembali menjadi kripik cilok, gorengan dan sebagainya.  Adapun para dosen yang memberikan pelatihan yaitu Dr. Dra. Seli Marlina Radja Leba, M.Hum, Marantika Lia Kristyasari, S.Pd, M.Pd, dan I Gede Bagus Wisnu Bayu Temaja, M.A. “Para mahasiswa juga ikut membantu dan mereka sangat antusias karena memberi dampak positif kepada mama-mama di kampung,”ujar Dr.Seli.

Kegiatan dilaksanakan di Kampung Wasur September lalu yang diawali dengan proses memilih dan mencuci kedelai. Kedelai yang dipilih adalah kedelai yang berkualitas dan tidak cacat. Kedelai yang telah terpilih kemudian direndam selama 12 jam atau semalaman. Setelah itu mama-mama diajak untuk mengupas kulit kedelai agar mendapat bagian dalamnya yang halus. Pengupasan ini memerlukan kesabaran dan kehatian-hatian agar biji kedelai tidak rusak. Setelah dikupas, biji kedelai tersebut direndam kembali untuk direbus dalam kuali selama 40-60 menit.

Setelah direbus, biji kedelai yang masih panas ditiriskan dan didinginkan hingga benar-benar dingin.  Biji yang telah dingin kemudian dimasukkan ke dalam nampan untuk ditaburi ragi. Campuran tersebut lalu diaduk secara merata kemudian dibungkus dengan daun pisang. Mengingat terbatasnya daun pisang akhirnya digunakan plastik bening. Kedelai yang telah dibungkus kemudian ditata rapi dalam nampan dan didiamkan 1 sampai 2 hari untuk proses fermentasi.  Setelah itu kedelai akan berubah menjadi tempe yang sehat dan higienis.

Sementara itu I Gede Bagus mengungkapkan bahwa mama-mama merasa senang dengan pelatihan tersebut.  Mereka tidak menyangka bahwa ternyata tempe dibuat dengan cara seperti itu. Selain mudah dibuat sendiri, tentu dapat meringankan pengeluaran sehari-hari ketimbang membeli. Pembuatan tempe juga bisa menjadi alternatif untuk menambah uang dapur tambahan dan membuat berbagai macam olahan tempe yang sehat.(iis)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *