Merajut Harapan Untuk Provinsi Papua Selatan Di Usia Yang Masih Belia

  • Bagikan
Dominikus Atonggar, Alif Friendy Kurniawan, Yune Angel Angelia Rumateray dan Josefin Iriani Kewamijai

MERAUKE,ARAFURA,-Tanpa terasa Provinsi Papua Selatan (PPS) telah berusia 1 tahun yang diperingati pada 11 November 2023 lalu dengan penuh sukacita dan rasa bahagia dari seluruh masyarakat di kawasan selatan. Tidak hanya bersukacita menyambut pertambahan usia yang pertama tetapi juga mengenang perjuangan yang memakan waktu tidak sebentar demi menghadirkan provinsi baru ini. Tentunya harapan dan doa senantiasa dipanjatkan demi perkembangan dan kemajuan PPS agar menjadi lebih baik ke depan.

Seperti harapan dari lubuk hati beberapa masyarakat yang berhasil dihimpun media ARAFURA News dari berbagai kalangan, Sabtu (2/12). Di antaranya Alif Friendy Kurniawan salah seorang pemuda yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SDIT Permata Bunda Kabupaten Merauke. Sebagai provinsi baru maka PPS diharapkan dapat terus melaju dengan melakukan berbagai inovasi, baik untuk kemajuan SDM maupun infrastruktur.

“Sebab jika manusianya sejahtera insyaallah akan lebih nyaman hidup di tanah ini dan ikut serta menjaga infrastruktur yang telah dibangun. Jadi tidak hanya bangunan fisik yang penting tetapi juga membangun mental, “terangnya. Sementara itu Wanita Inspiratif Papua Selatan, Josefin Iriani Kewamijai mengharapkan agar Pemprov Papua Selatan di usia yang pertama lebih fokus meningkatkan SDM orang asli Papua dan kemajuan anak-anak Papua selatan. Sebab mereka menjadi alasan PPS hadir sehingga perlu disentuh hingga ke akar rumput.

Menurutnya, usia 1 tahun ibarat bayi yang baru lahir dan dalam proses tumbuh kembangnya baru mulai belajar merangkak. “Saatnya kita berlomba-lomba mengisi pembangunan dengan hal-hal positif mendukung upaya pemerintah demi kemajuan bersama,”ujarnya. Josefin menjelaskan, PPS adalah hadiah terbesar bagi generasi muda dalam pengembangan sumber daya menuju keberhasilan yang selama ini diimpikan.

 

Hal senada juga diungkapkan Dominikus Atonggar, pria yang menjabat sebagai Ketua Komunitas Peduli Pantai Papua Selatan Rijif Kondo Ghaino ini mengemukakan, seiring dengan usia 1 tahun PPS maka roda pemerintahan yang berjalan harus semakin maju dan SDM yang ada di dalamnya dalam hal ini terkait kinerja dari setiap OKP maupun dinas dan badan juga perlu ditingkatkan. Pj.Gubernur berperan sebagai managernya yang akan menghandel bawahan agar lebih optimal menjalankan roda pemerintahan. “Tentunya yang namanya kekurangan pasti ada namun itu bukan menjadi hambatan bagi pihak-pihak yang menjalankan birokrasi pemerintahan di provinsi baru ini. Masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh pimpinan daerah maupun perangkatnya,”tukas Dominikus.

Lebih lanjut ia menjelaskan, PPS jangan hanya dilihat sebagai sebuah provinsi yang baru lahir tetapi lebih kepada orang-orang yang ada di dalamnya, baik pemerintahan maupun rakyatnya. Khusus untuk rakyat perlu diukur dari peningkatan di berbagai sektor, baik ekonomi, politik, pendidikan dan kesehatan. Sekali lagi, ada hal-hal yang perlu dibenahi dan menjadi tanggung jawab bersama karena provinsi ini sudah terbentuk. Misalnya dalam penggunaan anggaran harus betul-betul digunakan sesuai peruntukan, potensi, kondisi dan kebutuhan.

Sedangkan menurut Yune Angel Anggelia Rumateray, Tokoh Penggerak dan Pendiri Sekolah Alam Paradise, PPS meskipun masih berusia sangat belia diharapkan mampu memperhatikan hak-hak masyarakat adat dan segala kebijakan yang akan diambil harus melalui kesepakatan dan diskusi yang benar-benar matang. Selain itu dalam merekrut pegawai diharapkan memberdayakan lulusan sarjana dari lokal Papua terlebih khusus sarjana asli Papua.

Selain itu membatasi orang luar yang datang karena Papua bukanlah tanah kosong. Yune juga menyoroti tentang kerjasama yang terjalin dengan perusahaan yang merusak lingkungan dan menyebabkan krisis iklim agar dapat dihentikan. Khusus di bidang pendidikan, ia mengharapkan dapat dibangun sekolah alam atau sekolah adat dengan sistem asrama yang khusus menampung anak asli Papua, alokasikan dana otsus secara intens dan serius lalu anak Papua yang disekolahkan di luar harus kembali membangun daerahnya masing-masing.(iis)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *