Kolaborasi Dosen Unmus, Buat Biogas Tumbuhkan Energi Baru Terbarukan Di Provinsi Papua Selatan

  • Bagikan

MERAUKE,ARAFURA,-Kolaborasi dosen Universitas Musamus (Unmus) yang diketuai oleh Parjono, S.TP.,M.Si dari Program Studi Teknik Pertanian dengan anggota Wiyan A. Pamungkas, S.TP.,M.Sc dari Program Studi Teknik Pertanian, Adik Putra Andika, ST.,MT dari Program Studi Teknik Elektro, dan Eko Budianto, ST.,MT dari Program Studi Teknik Sipil sukses melaksanakan pembangunan biodigester untuk mendukung ketahanan energi baru terbarukan melalui pemanfaatan limbah peternakan untuk ketahanan dan kemandirian energi, pangan dan lingkungan di Kampung Marga Mulya sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Program ini didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tahun Anggaran 2023.

Parjono mengemukakan, biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikro organisme pada kondisi langka oksigen (anaerob). Komponen dalam biogas terdiri dari metana, karbon dioksida, N2, O2, H2 dan H2S. Biogas dapat dibakar seperti elpiji dan dalam skala besar biogas dapat dijadikan sumber energi listrik alternatif ramah lingkungan dan terbarukan. Hasil produk sampingan biogas Bio-Slurry (limbah cair) juga dapat digunakan sebagai pupuk organik yang kaya dengan nutrisi.

Proses anaerobik menonaktifkan patogen dan parasit; dengan demikian ini juga cukup efektif dalam mengurangi kejadian penyakit yang ditularkan melalui air dan udara. Hal ini, akan mengarah pada perbaikan lingkungan, sanitasi, kebersihan, ketahanan energi dan ketahanan pangan.
Ia bersama tim berharap program ini bisa memberikan dampak langsung kepada masyarakat untuk memanfaatkan limbah, khususnya limbah peternakan sapi sebagai biogas dan pemanfaatan Bio-slurry untuk pupuk organik . Jumlah ternak sapi di Kabupaten Merauke pada tahun 2022 mencapai 76.165 ekor (BPS Merauke, 2022). Dua ekor ternak dapat digunakan satu biodigester. Di setiap 13 m3 dapat menghasilkan gas setara sekitar 7.027 liter minyak tanah.

Dalam satu tahun satu biodigester ukuran 13 m3 dapat menghasilkan gas setara minyak tanah sebanyak 1.796 liter. Biogas memiliki keunggulan dibanding energi fosil yakni sifatnya yang terbarukan dan ramah lingkungan. “Saat ini masyarakat terutama di pedesaan masih menggunakan 100% minyak tanah sebagai bahan bakar memasak kebutuhan sehari-hari atau sebagai bahan perantara untuk membakar kayu bakar.

Kami berharap dengan kegiatan ini dan terbangunnya Biodigester di Kampung Marga Mulya dapat menjadi pilot project, edukasi bagi siswa, mahasiswa dan motor penggerak bagi masyarakat untuk menciptakan energi baru terbarukan yang berasal dari lingkungan setempat. Terutama limbah kotoran sapi yang potensinya tergolong tinggi sehingga tercipta kemandirian energi, pangan dan lingkungan yang bersih di Kampung Marga Mulya,”ujarnya.

Kegiatan dilaksanakan selama 5 bulan sejak Agustus hingga Desember 2023. Biodigester dipasang di salah satu anggota kelompok tani sekaligus peternak sapi. “Biodigester terbuat dari pasangan batu bata beton berkapasitas 13-15 m3 limbah cair kotoran sapi berkapasitas sekitar 25 ekor sapi. Saat ini biodigester masih terinstal untuk kompor biogas pemilik ternak dan kevdepannya dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk penerangan dan peralatan rumah tangga lainnya.

Parjono menambahkan, PKM ini juga melibatkan beberapa mahasiswa dari Program Studi Teknik Pertanian, Teknik Sipil dan Teknik Elektro sebagai bentuk pembelajaran secara langsung (praktek) di lapangan. Ke depan mahasiswa tidak di harapkan hanya pintar teori tetapi juga mampu melaksanakan praktek dari yang sudah dipelajari di kampus. Karena di masa mendatang mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori yang telah diperoleh selama menempuh perkuliahan.(iis)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *