Harmonisasi Keagamaan TNI Dengan Gereja Di Perbatasan Papua

  • Bagikan
Dansatgas saat menghadiri acara ulang tahun (foto:ist)

MERAUKE,ARAFURA,- Pos Komando Taktis (Kotis) Satgas PamtasYonif 123/Rajawali yang dipimpin Dansatgas menghadiri perayaan HUT Klasis GPI Papua Muting yang ke-VII di Kampung Sipias, Distrik Eligobel, Selasa (6/9). Adapun tema yang diusung yaitu “Meningkatkan Integritas Pelayanan” dengan sub tema “Membangun Relasi Merawat Kebersamaan Dalam Pelayanan”.

Letkol Inf Goklas P. Silaban selaku Dansatgas dalam rilis tertulisnya menyampaikan bahwa pihaknya bersyukur dapat hadir di tengah-tengah jemaat se-Rayon II Klasis GPI Papua Muting dalam momentum yang berbahagia. Menurutnya, gereja memiliki peran penting dalam pembentukan harmonisasi umat beragama yang sesuai dengan visi dan misi Satgas PamtasYonif 123/RW yakni mewujudkan sinergitas TNI dengan masyarakat.

“Saya pribadi dan seluruh prajurit engucapkan selamat ulang tahun Klasis GPI Papua Muting yang ke-VII, semoga kita semua selalu bersyukur dan tetap bergandengan tangan sebagai mitra untuk meningkatkan kualitas hidup serta integritas pelayanan sesuai tema yang diusung pada peringatan HUT kali ini ,” ucap Dansatgas.

Ia juga berpamitan kepada seluruh jemaat dan memohon maaf apabila terdapat kesalahan selama jajarannya melakukan tugas di perbatasan. Pihaknya akan kembali ke home base yang ada di Sumatera Utara.

“Selama 10 bulan kita bersinergi dan saling mendukung kegiatan keagamaan di Klasis GPI ini. Apa yang kami lakukan benar-benar tulus untuk membantu jika ada kendala yang dihadapi oleh gereja-gereja di perbatasan serta memberikan rasa aman kepada jemaat dalam melaksanakan ibadah,”jelasnya.

Dalam acara tersebut Dansatgas mendapat kehormatan berupa pemberian topi adat Papua oleh Ketua Klasis Muting, Pendeta Agus Basik- Basik mewakili seluruh jemaat sebagai tanda harmonisasi yang telah dibangun dan ucapan terima kasih.

“Prajurit sudah banyak membantu jemaat dan membina hubungan baik. Terima kasih Dansatgas Yonif 123/Rajawali dan topi adat Papua ini kami berikan sebagai wujud cinta kasih kepada komandan beserta prajuritnya,”terang Pendeta Agus. [Istya Sari Utami]

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *