Gelar Tiga Momen, Ini Penekanan Sulaeman Hamzah

  • Bagikan
Sulaeman Hamzah mendampingi Johanes Gluba Gebze saat proses peresmian  (foto:iis)

MERAUKE,ARAFURA,-Jumat, (21/10) menjadi momen penting bagi keluarga besar Rumah Aspirasi H.Sulaeman L.Hamzah karena gedung baru yang lebih strategis akhirnya dapat diresmikan dengan mengundang langsung Tokoh Masyarakat Papua Selatan, Johanes Gluba Gebze untuk ikut melaksanakan peresmian. Istimewanya lagi, momen tersebut juga dikolaborasikan dengan acara berbagi kasih dengan para guru TPA dan TPQ serta para santri pondok pesantren.

Selain peresmian turut digelar pula peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW dan Hari Santri Nasional dengan menghadirkan penceramah dari ibukota atas nama Habib Alwi Bin Ahmad Bin Syahab untuk memberikan tauziah. Anggota Komisi IV DPR RI, H.Sulaeman L.Hamzah dalam kesempatan itu mengemukakan bahwa Hari Santri yang disahkan oleh Presiden pada 22 Oktober 2015 silam. Ia berharap para santri yang ada di Merauke dapat dididik sehingga menjadi sosok panutan di masa depan.

Terkait dengan peresmian gedung baru Rumah Aspirasi yang beralamat di Jalan Noari, ia mengharapkan dapat menjadi rumah bersama masyarakat untuk menyampaikan aspirasi kepada anggota DPR, baik daerah, provinsi maupun pusat. Sebagai wakil rakyat yang ada di Senayan, ia tetap berkomitmen membantu masyarakat meskipun kerap harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan durasi waktu yang cukup lama. Ia mengakui dengan berbagai keterbatasan tentu proses pelayanan masyarakat menjadi terkendala dan tidak sempurna.

Namun seiring dengan pemekaran dan kehadiran DOB maka terbuka peluang yang lebih baik khususnya dalam pelayanan masyarakat sehingga lebih maksimal. “Saya pastikan bahwa Papua Selatan akan menjadi pilihan saya untuk mewakili masyarakat di sini. Oleh sebab itu saya mohon dukungan agar dapat bekerja dengan maksimal, terlebih dengan empat kabupaten di selatan tentunya pekerjaan saya bisa lebih fokus,”terang Sulaeman.  Sementara itu Johanes Gluba Gebze mengungkapkan bahwa dirinya sangat berbahagia bisa hadir pada momentum siang itu sebab sebagai satu pertanda bahwa meskipun kita berbeda-beda tetapi niat yang tertanam dalam diri kita sesungguhnya hanya satu.

Ia menegaskan bahwa kulit itu hanya baju dan rambut hanya mahkota dari sebuah keragaman ciptaan anugerah Allah untuk kita semua. Dengan prinsip itulah kita hidup berbeda-beda dan ketika terjadi kegalauan di tempat lain justru di Papua Selatan ada damai perbedaan yang berlangsung. “Kita saling berpelukan satu sama lain dan berbagi persaudaraan sehingga perbedaan bukan menjadi masalah melainkan anugerah untuk saling menguatkan khususnya bagi yang lemah,”terangnya.(iis)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *