Bersama Anak Didiknya, Untung Sangaji Sharing Prospek Home Industri

  • Bagikan

Andri Dan Marselina saat menyimak arahan (foto:ist)

JAYAPURA,ARAFURA,- Andri Rinaldy Bassay dan Findian Grend Marselina Tokan begitu bersemangat menyimak arahan dan edukasi yang diberikan oleh Kepala Bagian Pengadaan Biro Logistik (Kabagada Rolog) Polda Papua, AKBP Ir.Untung Sangaji, MH yang secara khusus melatih mereka ketrampilan home industri dengan membuat pot bonsai dan kancing baju dari batok kelapa. Sukses dengan pelatihan awal membuat pot bonsai, kedua anak muda ini melanjutkan berlatih membuat kancing baju dari limbah batok kelapa dengan menggunakan peralatan yang sederhana dan cara yang cukup mudah.

Usai melatih Andri dan Marselina, Untung Sangaji mengajak mereka sharing tentang prospek dari produk home industri tersebut yang pernah sukses ia ajarkan kepada masyarakat di sejumlah daerah saat berdinas. Diskusi ringan yang berlangsung di New Horison Hotel itu membahas sejumlah topik penting dan diikuti oleh kedua anak didiknya dengan penuh antusias. Andri, pemuda asli Serui ini aktif bertanya tentang manfaat dari batok kelapa dan apa saja yang dapat dihasilkan dari limbah tersebut. Sedangkan Marselina yang berasal dari NTT ini memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar tentang variasi kancing batok kelapa dan harga jualnya di pasaran.

Secara terperinci, AKBP Untung Sangaji memberikan penjelasan dan arahan sehingga kedua anak didiknya itu benar-benar paham dan mengerti. Selaku instruktur, polisi yang pernah sukses memimpin Polres Aceh Utara dan Polres Merauke ini sangat mengharapkan anak didiknya dapat meningkatkan ketrampilan dan mandiri untuk menghasilkan karya sekelas produk UMKM yang berkualitas dan memiliki nilai jual yang menjanjikan. “Pelatihan bagi perwakilan pemuda asli Serui, Andri Rinaldy Bassay dan pemudi NTT Findian Grend Marselina Tokan yang asli Larantuka selesai dengan hasil yang baik dan berkesan.

Bahkan mampu diselesaikan dalam waktu cepat sesuai target yang diharapkan,”terang Untung Sangaji kepada ARAFURA News via telepon, Minggu (20/11). Ia juga menceritakan tentang produk yang ia hasilkan dari tangannya sendiri bisa mencapai harga 2.500.00 hingga 5.000.00 perkancing. Hobi yang menurutnya sangat menghasilkan karena cukup banyak yang memesan. Dalam waktu satu hari saja, bisa mencapai 25 hingga 30 batok kelapa yang ia kerjakan dan disortir dengan baik. “Orang yang mampu mengimbangi pekerjaan saya pasti sudah tahu apa yang akan didapat dari hasil kerja mereka itu.

Ada yang pria dan ada yang wanita, mereka begitu bersemangat bekerja. Kadang dibantu dengan keluarga, saudara atau pacar mereka, tidak apa-apa karena bisa menjadi sarana untuk meningkatkan semangat,”jelasnya. Yang terpenting menurut Untung Sangaji, mereka dapat melakukan pekerjaan dengan rasa nyaman dan hasil kerjanya bernilai. Ia salut karena Andri dan Marselina mampu mencapai hasil maksimal sesuai petunjuk dan kreativitas yang sudah ia ajarkan. Usai latihan ia langsung mengevaluasi hasil yang diperoleh selama 3 jam pelatihan dan ternyata Andri dan Marselina sudah paham menggunakan alat, di antaranya bor untuk menentukan ukuran kancing yang diinginkan serta bagaimana memperlakukan batok kelapa yang punya nilai seni dan harga jual.

“Karakter batok kelapa dari Wanam dan Kimaam Kabupaten Merauke Provinsi Papua Selatan sangat bagus serta memiliki harga tinggi, sama dengan yang ada di Seunuddon Aceh Utara. Banyak manfaat dari batok kelapa selain dibuat peralatan rumah tangga, juga dapat dibuat kancing dan isinya bisa dibuat VCO,”terang Untung Sangaji. Untuk kancing, dengan perlakuan yang berbeda maka dapat menghasilkan karakter yang lebih baik dan harganya jelas semakin tinggi. “Dengan perlakuan khusus, ornamennya bisa lebih keren lagi.

Untuk yang biasa saja atau tanpa perlakuan khusus, harga standar perkancing sudah mencapai 600 Rupiah. Nah, kalau satu karung berisi 400 batok kelapa lalu dikalikan 600 Rupiah, lumayan juga harganya. Apalagi jika lebih dari jumlah tersebut, tinggal dikalikan saja,”tukasnya. Ia menjelaskan, jika dikerjakan oleh sebuah team work maka akan menghasilkan produk yang lebih banyak karena sudah ada pembagian tugas, baik yang membersihkan, mengebor dan lain-lain.(iis)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *